Makalah Ketahanan Nasional
MAKALAH KETAHANAN NASIONAL
(Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan
Kewarganegaraan)

Disusun oleh:
Tiara Aqilla (45217951)
1DA02
AKUNTANSI KOMPUTER
UNIVERSITAS GUNADARMA
2017/2018
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
Segala puji hanya milik Allah SWT,
shalawat serta salam selalu tercurahkan kepada Rasulullah
SAW. Berkat limpahan rahmat-Nya, penulis mampu
menyelesaikan tugas makalah ini guna memenuhi tugas mata
kuliah Pendidikan Kewarganegaraan.
Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas
wawasan mengenai ketahanan nasional yang penulis sajikan berdasarkan pengamatan
dari berbagai sumber informasi, referensi dan berita. Makalah ini penulis susun
dengan berbagai rintangan baik itu yang datang dari diri penulis maupun yang
datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari
Allah akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang
lebih luas dan menjadi sumbangan pemikiran kepada pembaca khususnya para
mahasiswa Universitas Gunadarma. Penulis sadar bahwa makalah ini masih banyak
kekurangan dan jauh dari sempurna. Untuk itu, kepada dosen pengampu, penulis
meminta masukannya demi perbaikan pembuatan makalah penulis di masa yang akan
datang dan mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca.
Penulis
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Kemerdekaan
Negara Indonesia diperoleh dari perjuangan oleh penduduk pribumi yang sangat
panjang. Harta, waktu dan nyawa mereka korbankan demi kemerdekaan Negara
Indonesia. Sejak negara Indonesia merdeka, Indonesia tidak luput dari
gejolak dan ancaman yang membahayakan kelangsungan hidup bangsa. Tetapi selama
ini bangsa Indonesia mampu mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatannya serta mampu
menegakkan wibawa pemerintahan dari gerakan separatis. Negara Indonesia
yang memiliki wilayah yang luas dan kaya akan sumber daya alam rentan terhadap
ancaman yang dari arah dalam maupun luar. Ancaman yang datang tersebut dapat
membahayakan kesatuan NKRI.
Indonesia
harus bisa mempertahankan kesatuan serta kedaulatan Negara dan pemerintahan
dari ancaman – ancaman yang datang tersebut. Salah satu caranya adalah dengan
memperkuat ketahanan nasional dalam kehidupan Negara Indonesia. Ketahanan nasional
dapat terbentuk jika seluruh elemen masyarakat Indonesia ikut menjaga ketahanan
dalam aspek politik, ekonomi, sosial budaya, hukum, pertahanan dan keamanan.
Kerja sama antara pemerintah dan masyarakat dalam membentuk ketahanan nasional
akan memperkuat kesatuan Negara Indonesia.
1.2 Rumusan
Masalah
1.2.1
Apa yang
dimaksud ketahanan nasional?
1.2.2
Apa saja karakteristik ketahanan nasional?
1.2.3
Apa saja asas – asas ketahanan nasional?
1.2.4
Bagaimana kedudukan dan fungsi ketahanan
nasional?
1.2.5
Apa saja aspek ketahanan nasional?
1.2.6
Apa saja yang dapat melemahkan ketahanan
nasional?
1.2.7
Studi kasus masalah ketahanan nasional di
Indonesia
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Menjelaskan
ketahanan nasional untuk mempertahankan kesatuan Negara
1.3.2
Tujuan Khusus
1.3.2.1
Mengetahui ketahanan nasional
1.3.2.2
Mengetahui karakteristik, asas, kedudukan dan
fungsi ketahanan nasional
1.3.2.3
Mengetahui ancaman yang dapat melemahkan
ketahanan nasional
1.3.2.4
Menganalisis kasus ketahanan nasional di
Indonesia
BAB 2 PEMBAHASAN
2.1
Pengertian Ketahanan Nasional
Pengertian
ketahanan nasional menurut beberapa ahli adalah sebagai berikut :
·
Menurut Sumarno, ketahanan nasional adalah
kondisi dinamika bangsa yang meliputi segenap aspek kehidupan nasional yang
terintegrasi.
·
Menurut Harjomataram, ketahanan nasional adalah
keuletan dan daya tahan suatu bangsa untuk mengembangkan kekuatan nasional
dalam menghadapi segala tantangan dan ancaman dari dalam atau luar, langsung
atau tidak langsung, dan bisa membahayakan kehidupan nasional.
·
Menurut Suradinata dan Kaelan, ketahanan
nasional adalah suatu kondisi dinamis sebuah Negara yang memiliki keuletan dan
ketangguhan serta mampu mengembangkan kekuatan nasional dalam menghadapi dan
mengatasi segala ancaman, gangguan, hambatan, dan tantangan yang datang dari
dalam maupun luar negeri, secara langsung maupun tidak langsung, yang dapat
membahayakan integritas, identitas, kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara
serta perjuangan bangsa dalam menjaga tujuan nasional.
Dari
pendapat para ahli tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa ketahanan nasional
adalah kemampuan suatu Negara untuk mempertahankan integritas, identitas serta
kelangsungan kehidupan bernegara yang terhimpun dalam kekuatan nasional untuk
menghadapi segala ancaman baik dari dalam maupun dari luar.
2.2 Karakteristik
Ketahanan Nasional
Ketahanan
nasional memiliki sifat – sifat sebagai berikut :
a.
Mandiri, artinya ketahanan
nasional memiliki
kemampuan dan kekuatan sendiri dengan keuletan dan ketangguhan yang
mengandung prinsip pantang
menyerah serta bertumpu pada identitas, integritas, dan kepribadian
bangsa. Kemandirian ini merupakan prasyarat untuk menjalin kerja sama
yang saling menguntungkan dalam perkembangan global.
b.
Dinamis, artinya ketahanan nasional tidaklah tetap,
melainkan dapat meningkat ataupun menurun bahkan mengalami perubahan bergantung pada situasi dan kondisi bangsa dan
negara, serta kondisi lingkungan strategisnya. Hal ini mengacu pada segala sesatu di dunia ini senantiasa
berubah. Oleh sebab itu, upaya
peningkatan ketahanan nasional harus senantiasa diorientasikan ke masa depan
dan dinamikanya di arahkan untuk pencapaian kondisi kehidupan nasional yang
lebih baik.
c.
Manunggal, artinya ketahanan nasional memiliki sifat
integratif yang diartikan terwujudnya kesatuan dan perpaduan yang seimbang,
serasi, dan selaras di antara seluruh aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa
dan bernegara.
d.
Wibawa, artinya ketahanan nasional sebagai hasil
pandangan yang bersifat manunggal dapat
mewujudkan kewibawaan nasional
yang akan diperhitungkan oleh pihak lain sehingga dapat menjadi
daya tangkal suatu negara.
Semakin tinggi daya tangkal suatu negara, semakin besar pula kewibawaannya.
e.
Konsultasi
dan kerjasama, artinya
ketahanan nasional tidak
mengutamakan sikap konfrontatif dan antagonis, tidak mengandalkan kekuasaan dan
kekuatan fisik semata, tetapi lebih pada sifat konsultatif dan kerja sama serta
saling menghargai dengan mengandalkan pada kekuatan moral dan kepribadian
bangsa.
2.3 Asas
– Asas Ketahanan Nasional
a.
Asas kesejahtraan dan keamanan.
Asas ini merupakan kebutuhan yang sangat
mendasar dan wajib dipenuhi bagi individu maupun masyarakat atau kelompok.
Dengan demikian, kesejahteraan dan keamanan merupakan asa dalam sistem
kehidupan nasional. Tanpa kesejateraaan dan keamanan, sesitem kehidupan
nasional tidak akan dapat berlangsung. Kesejahteraan dan keamanan merupakan
nilai intrinsik yang ada pada sistem kehidupan nasuional itu sendiri.
Kesejahtrean maupun keamanan harus selalu ada,
berdampingan pada kondisi apa pun.Dalam kehidupan nasional, tingkat kesejahteraan dan
keamanan nasional yang dicapai merupakan tolok ukur Ketahanan Nasional
b.
Asas Mawas ke Dalam dan Mawas ke Luar.
Sistem kehidupan nasional merupakan perpaduan
segenap aspek kehidupan bangsa yang saling berinteraksi. Di samping itu, sistem
kehidupan nasional juga berinteraksi dengan linkungan sekelilingnya. Dalam
proses interaksi tersebut dapat timbul berbagai dampak baik yang bersifat
positif maupun negatif. Untuk itu diperlukan sikap mawas ke dalam maupun
keluar. Mawas ke dalam bertujuan menumbuhkan hakikat, sifat, dan kondisi
kehidupan nasional itu sendiri berdasarkan nilai-nilai kemadirian
yangproporsional untuk meningkatkan kualitas derajat kemandirian bangsa yang
ulet dan tangguh. Mawas ke luar bertujuan untuk dapat mengantisipasi dan
berperan serta mengatasi dampak lingkungan stategis luar negeri dan menerima
kenyataan adanya interaksi dan
ketergantungan dengan dunia internasional.
c.
Asas kekeluargaan.
Asas ini bersikap keadilan, kebersamaan,
kesamaan, gotong royong, tenggang rasa dan tanggung jawab dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dalam hal hidup dengan asas
kekeluargaan ini diakui adanya perbedaan, dan
kenyataan real ini dikembangkan
secara serasi dalam kehidupan kemitraan dan dijaga dari
konflik yang bersifat merusak/destruktif.
d.
Asas Komprehensif Integral atau Menyeluruh
Terpadu.
Sistem kehidupan nasional mencakup segenap aspek kehidupan bangsa
dalam bentuk perwujudan persatuan dan perpaduan yang seimbang, serasi dan
selaras pada seluruh aspek
kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara. Ketahanan Nasional mencakup
ketahanan segenap aspek kehidupan bangsa secara
utuh, menyeluruh dan terpadu (komprehensif intergral).
2.4 Kedudukan
dan Fungsi Ketahanan Nasional
a.
Kedudukan
Ketahanan
nasional merupakan suatu ajaran yang diyakini kebenarannya oleh seluruh bangsa
Indonesia serta merupakan cara terbaik yang perlu di implementasikan secara
berlanjut dalam rangka membina kondisi kehidupan nasional yang ingin
diwujudkan, wawasan nusantara dan ketahanan nasional berkedudukan sebagai
landasan konseptual, yang didasari oleh Pancasil sebagai landasan ideal dan UUD
sebagai landasan konstisional dalam paradigma pembangunan nasional.
b.
Fungsi
Ketahanan
nasional nasional dalam fungsinya sebagai doktrin dasar nasional perlu dipahami
untuk menjamin tetap terjadinya pola pikir, pola sikap, pola tindak dan pola
kerja dalam menyatukan langkah bangsa yang bersifat inter – regional (wilayah),
inter – sektoral maupun multi disiplin. Konsep doktriner ini perlu supaya tidak
ada cara berfikir yang terkotak-kotak (sektoral).
Satu alasan adalah
bahwa bila penyimpangan terjadi, maka akan timbul pemborosan waktu, tenaga dan
sarana, yang bahkan berpotensi dalam cita-cita nasional. Ketahanan nasional
juga berfungsi sebagai pola dasar pembangunan nasional. Pada hakikatnya
merupakan arah dan pedoman dalam pelaksanaan pembangunman nasional disegala
bidang dan sektor pembangunan secara terpadu, yang dilaksanakan sesuai dengan
rancangan program.
2.5 Pengaruh
Aspek Ketahanan Nasional Pada Kehidupan Bernegara
Terdapat beberapa aspek yang penting
dalam memebrntuk ketahanan nasional yaitu:
a.
Pengaruh Aspek Ideologi
Ideologi adalah sistem nilai yang merupakan kebulatan ajaran yang
memberikan motivasi. Dalam ideologi terkandung konsep dasar tentang kehidupan
yang dicita-citakan oleh bangsa. Suatu ideologi bersumber dari suatu aliran
pikiran/falsafah dan merupakan pelaksanaan dari sistem falsafah itu sendiri.
Ideologi-ideologi di dunia antara lain:
1.
Liberalisme (individualisme)
Negara adalah masyarakat hukum
(legal society) yang disusun atas kontrak semua orang (individu) dalam
masyarakat (kontrak sosial). Liberalisme bertitik tolak dari hak asasi yang
melekat pada manusia sejak lahir dan tidak dapat diganggu gugat oleh siapapun
termasuk penguasa terkecuali atas persetujuan dari yang bersangkutan. Paham
liberalisme mempunyai nilai-nilai dasar (intrinsik) yaitu kebebasan kepentingan
pribadi yang menuntut kebebasan individu secara mutlak.
2.
Komunisme (class theory)
Negara adalah susunan golongan
(kelas) untuk menindas kelas lain. Golongan borjuis menindas golongan proletar
(buruh), oleh karena itu kaum buruh dianjurkan mengadakan revolusi politik
untuk merebut kekuasaan negara dari kaum kapitalis & borjuis.
·
Paham Agama
Negara membina kehidupan keagamaan umat dan bersifat spiritual religius.
Bersumber pada falsafah keagamaan dalam kitab suci agama. Negara melaksanakan
hukum agama dalam kehidupan dunia
·
Ideologi Pancasila
Merupakan tatanan nilai yang digali (kristalisasi) dari nilai-nilai dasar
budaya bangsa Indonesia.
b. Pengaruh Aspek Politik
Politik di Indonesia dapat
digambarkan bahwa politik dalam negeri
merupakan kehidupan politik dan
kenegaraan berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 yang mampu menyerap aspirasi dan
dapat mendorong partisipasi masyarakat dalam satu sistem yang unsur-unsurnya
adalah struktur politik, proses politik, budaya politik dan komunikasi politik.
Politik luar negeri
merupakan kehidupan politik dan kenegaraan yang berdasarkan pada pembukaan UUD
1945, yaitu melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian
abadi dan keadilan sosial dan anti penjajahan karena tidak sesuai dengan
kemanusiaan dan keadilan.
Politik luar negeri Indonesia
adalah bebas dan aktif. Bebas berarti Indonesia tidak memihak kekuatan-kekuatan
yang pada dasarnya tidak sesuai dengan kepribadian bangsa. Dan aktif yang
berarti Indonesia dalam pergaulan internasional tidak bersifat reaktif dan
tidak menjadi obyek, tetapi berperan atas dasar cita-citanya.
c.
Pengaruh Aspek Ekonomi
Sistem perekonomian yang diterapkan oleh suatu negara akan memberi corak
terhadap kehidupan perekonomian negara yang besangkutan. Sistem ekonomi liberal
dengan orientasi pasar secara murni akan sangat peka terhadap pengaruh dari
luar, sebaliknya sistem perekonomian sosialis dengan sifat perencanaan dan
pengendalian oleh pemerintah kurang peka terhadap pengaruh dari luar.
Sistem perekonomian sebagai usaha bersama berarti setiap warga negara
mempunyai hak dan kesempatan yang sama dalam menjalankan roda perekonomian
dengan tujuan untuk mensejahterakan bangsa. Dalam perekonomian Indonesia tidak
dikenal monopoli dan monopsoni baik oleh pemerintah/swasta. Secara makro sistem
perekonomian Indonesia dapat disebut sebagai sistem perekonomian kerakyatan.
d.
Pengaruh
Aspek Sosial Budaya
Kebudayaan diciptakan oleh faktor
organobiologis manusia, lingkungan alam, lingkungan psikologis, dan lingkungan
sejarah. Dalam setiap kebudayaan daerah terdapat nilai budaya yang tidak dapat
dipengaruhi oleh budaya asing (local genuis). Local genuis itulah pangkal
segala kemampuan budaya daerah untuk menetralisir pengaruh negatif budaya
asing.
Kebuadayaan nasional merupakan hasil
(resultante) interaksi dari budaya-budaya suku bangsa (daerah) atau budaya
asing (luar) yang kemudian diterima sebagai nilai bersama seluruh bangsa.
Interaksi budaya harus berjalan secara wajar dan alamiah tanpa unsur paksaan
dan dominasi budaya terhadap budaya lainnya.
Kebudayaan nasional merupakan identitas
dan menjadi kebanggaan Indonesia. Identitas bangsa Indonesia adalah manusia dan
masyarakat yang memiliki sifat-sifat dasar:
1.
Religius
2.
Kekeluargaan
3.
Hidup seba selaras
4.
Kerakyatan
Wujud ketahanan sosial budaya
tercermin dalam kondisi kehidupan sosial budaya bangsa yang dijiwai kepribadian
nasional, yang mengandung kemampuan membentuk dan mengembangkan kehidupan
sosial budaya manusia dan masyarakat Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada
Tuhan yang maha esa, bersatu, cinta tanah air, berkualitas, maju dan sejahtera
dalam kehidupan yang serba selaras, serasi dan seimbang serta kemampuan
menangkal penetrasi budaya asing yang tidak sesuai dengan kebudayaan nasional.
e.
Pengaruh
Aspek Hankam
Keseluruhan daya upaya seluruh
rakyat Indonesia sebagai satu sistem ketahanan keamanan negara dalam
mempertahankan dan mengamankan negara demi kelangsungan hidup dan kehidupan
bangsa dan negara RI. Pertahanan keamanan negara RI dilaksanakan dengan menyusun,
mengerahkan, menggerakkan seluruh potensi nasional termasuk kekuatan masyarakat
diseluruh bidang kehidupan nasional secara terintegrasi dan terkoordinasi.
Penyelenggaraan ketahanan dan
keamanan secara nasional merupakan salah satu fungi utama dari pemerintahan dan
negara RI dengan TNI dan Polri sebagai intinya, guna menciptakan keamanan
bangsa dan negara dalam rangka mewujudkan ketahanan nasional Indonesia.
Wujud ketahanan keamanan tercermin
dalam kondisi daya tangkal bangsa yang dilandasi kesadaran bela negara seluruh
rakyat yang mengandung kemampuan memelihara stabilitas pertahanan keamanan
negara (Hankamneg) yang dinamis, mengamankan pembangunan dan hasil-hasilnya
serta kemampuan mempertahankan kedaulatan negara dan menangkal segala bentuk
ancaman. Postur kekuatan pertahanan keamanan mencakup:
1.
Struktur kekuatan
2.
Tingkat kemampuan
3.
Gelar kekuatan
2.6
Hal-Hal Yang Dapat Melemahkan Ketahanan Nasional
Segala macam kesulitan dan masalah-masalah yang merupakan
ancaman dan tantangan yang harus diatasi atau ditanggulangi oleh Negara dan
segenap rakyat Indonesia, terutama setelah Indonesia merebut kemerdekaan, maka
dapat dikatakan bahwa kesulitan, ancaman, dan tantangan itu timbul dalam
bidang-bidang kehidupan masyarakat.
2.7
Studi
Kasus Mengenai Ketahanan Nasional
a. Konflik Antar Suku di Papua
Penyebab konflik
antar suku di papua diantara lain :
·
Banyaknya warga pendatang baru
yang berasal dari luar Papua.
Timika sebagai daerah perusahaan
merupakan magnet bagi para imigran yang datang dari luar Papua untuk mencari
kehidupan yang lebih layak dengan mencari pekerjaan di
Timika. Lantaran adanya perusahaan asing bertaraf internasional yang
kini mampu menampung karyawan sebanyak 19.000 orang. Belum lagi
banyaknya karyawan di sejumlah perusahaan swasta maupun pemerintahan di Timika
yang didominasi warga pendatang. Kondisi ini menggambarkan bahwa
jumlah Warga Luar Papua yang masuk ke Timika lebih dari angka 200an/hari.
·
Rendahnya tingkat pendidikan dan
kesehatan di Papua
Faktor penyubur konflik lainnya
misalnya sektor pendidikan dan kesehatan yang tak berjalan
baik. Ibaratnya jika tingkat pendidikan baik maka masyarakat tak
mudah terpengaruh oleh rayuan provokator sehingga tak mudah timbul
konflik. Begitupun dengan kesehatan, jika warganya sehat dengan
asupan gizi yang cukup maka tak ada alasan bagi masyarakat setempat untuk
terlibat dalam konflik.
·
Kalangan pemuda yang tidak
menuruti ketua adat
Pada kasus konflik antara suku
Dani dan suku Damal, setelah ada korban meninggal kepala suku salah satu dari
kedua suku tersebut telah memberikan tanda damai. Namun beberapa kalangan anak
muda justru tidak mendengarkan perintah dari kepala suku. Akibatnya
terjadi konflik lagi karena dendam yang harus dibalaskan. Dalam
kondisi seperti ini, aparat keamanan diterjunkan untuk melerai konflik, namun
sering kali justru aparat keamanan yang ditudu menjadi penyebab karena mungkin
sudah geram dengan aksi dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
·
Balas dendam masih menjadi budaya
di Papua
Sejumlah kasus kekerasan terjadi
di Papua, selain penembakan, perang antar suku juga kerap
terjadi. Polisi menengarai hal ini karena adanya dendam antar
kelompok.
·
Profokasi yang dilakukan oleh pihak-pihak yang
tidak bertanggung jawab
Peperangan antarsuku yang terjadi di
Papua salah satunya juga disebabkan karena ulah provokasi baik dari anggota
masyarakat suku ataupun orang yang tidak bertanggung jawab. Sebagai
contoh ketika warga dari suku Wamena menghancurkan pemukiman warga suku Yoka
karena warga suku Wamena terprovokasi dengan nada dering / ring
tone yang dibuat oleh seseorang dari suku Yoka. Hal ini menunjukkan bahwa
masyarakat suku di Papua sangat mudah terprovokasi dengan isu-isu yang ada
dalam masyarakat. Apalagi budaya balas dendam masih menjadi hal yang
lumrah bagi mereka.
Contoh dari kasus yang asih segar dalam ingatan kita yaitu bahwa di
Timika selalu terjadi konflik antarsuku. Konflik antara PT
Freeport Indonesia (PT FI) dengan warga setempat juga turut mewarnai tragedi
konflik di daerah itu. Sebagai contoh kerusuhan yang terjadi Tahun
1996. Kerusuhan yang telah menelan korban jiwa pada masyarakat sipil
dan korban materil yang tak terhitung jumlahnya.
Saat itu, pihak perusahaan menggunakan
jasa aparat keamanan untuk menembaki, memperkosa, meneror dan mengancam warga
Papua. Konflik di Timika pula yang akhirnya menghasilkan pemberian dana 1
persen dari pendapatan bersih PT FI pertahun untuk Masyarakat Amungme dan
Kamoro. Walaupun kini dana 1 persen itu lebih banyak digunakan untuk
kepentingan PT FI sendiri. Konflik antar suku tersebut menyebabkan beberapa
damapak, yaitu:
a. Rusaknya
fasilitas umum.
b. Hancurnya
pemukiman warga.
c. Jatuhnya
korban, baik yang luka-luka maupun tewas.
d. Warga yang
tidak bersalah juga ikut menjadi korban, sehingga dapat menimbulkan dampak
psikologis.
e. Masyarakat
merasa tidak aman dengan adanya konflik yang terjadi.
f. Menimbulkan
perpecahan di masyarakat.
g. Hilangnya
rasa kepercayaan dalam masyarakat.
h. Goyang dan
retaknya persatuan.
i.
Menimbulkan dampak psikologis yang
negatif, seperti perasaan tertekan sehingga menjadi siksaan terhadap mentalnya,
stres, kehilangan rasa percaya diri, rasa frustasi, cemas dan takut.
j.
Mematikan semangat kompetisi
dalam masyarakat karena pribadi yang mendapat tekanan psikologis akibat konflik
cenderung pasrah dan putus asa
k. Hancurnya
harta benda dan jatuhnya korban manusia. Hal tersebut terjadi
apabila konflik telah mencapai pada tahap kekerasan, seperti perang,
bentrok antar suku.
Untuk mengurangi maupun menghilangkan kasus
konflik antar suku tersebut, maka diperlukan kerjasama antar warga dan
pemerintah. Solusi yang bisa digunakan untuk eminimalisir konflik antar suku
tersebut adalah sebagai berikut:
· Melakukan
sosialisasi tentang pentingnya kebersamaan.
Kebersamaan
merupakan hal yang sangat dibutuhkan oleh setiap warga Negara dalam kehidupan
bernegara. Sosialisasi dilakukan untuk memberikan pengetahuan kepada
masyarakat agar lebih bisa saling menghargai antarsuku dan tidak saling
mencela. Namun hal ini biasanya menemui kendala, karena ada beberapa
suku yang ‘rewel’dan tidak menghiraukan imbauan yang telah diberikan.
· Memperbaiki
tingkat pendidikan di Papua.
Seperti
yang telah kita ketahui bahwa tingkat pendidikan di Papua bisa dibilang masih
jauh dari kemakmuran. Walaupun sudah banyak orang-orang Papua yang
menempuh sampai tingkat pendidikan tinggi, namun tidak sedikit pula yang masih
belum mengenyam pendidikan, terutama masyarakat suku
adat. Pendidikan belum tersebar merata di Papua, mengingat kondisi
geografis di Papua juga sulit untuk dicapai.
·
Memberikan lapangan kerja yang cukup bagi masyarakat Papua.
Kemiskinan
yang ada di Papua salah satunya disebabkan karena lapangan kerja yang tidak
tersedia secara menyeluruh. Ketika beberapa perusahaan besar yang
ada di Papua memberikan pekerjaan bagi masyarakat di Papua, itu tidak menjamin
kalangan masyarakat banyak yang bekerja. Apalagi pekerja dari luar
Papua juga semakin banyak yang bekerja di perusahahan asing yang ada di Papua
seperti PT. Freeport Indonesia. Pemerintah seharusnya bisa mendidik
masyarakat Papua untuk lebih berjiwa wirausaha, agar dapat menciptakan lapangan
kerja bagi masyarakat, sehingga tidak akan terjadi konflik antara masyarakat
dengan pihak perusahaan maupun dengan sesama masyarakat. Angka kemiskinan
pun akan bisa sedikit demi sedikit terkurangi.
·
Meningkatkan kewaspadaan aparat keamanan di daerah-daerah
yang rawan dengan konflik.
Aparat keamanan yang ada di Papua, seharusnya dapat bergerak
lebih cepat jika dibandingkan dengan warga yang biasanya melekukan provokasi
misalnya dengan melakukan aksi penembakan. Aparat keamanan harus
lebih sigap dalam menyikapi terjadinya konflik jika tidak mau dicap sebagai
dalang dari kerusuhan. Sering kali aparat keamanan dituduh menjadi
sumber kerusuhan di masyarakat, terutama pada saat melerai kubu yang
berkonflik. Sistem keamanan mungkin harusnya lebih wapada seperti
pada masa orde baru, ketika ada sedikit isu mengenai konflik, aparat langsung
bertindak. Sehingga belum sampai terjadi konflik isu sudah mereda dan
konflik tidak akan terjadi.
Analisis masalah dan kesimpulan yang dapat kita ambil adalah
sebagai berikut :
}Dari ulasan di atas dapat kita temukan
bahwa moral dari aparatur negara yang
bertanggung jawab terhadap utuhnya ketahanan nasional secara fisik sangat
lemah.
}Hal ini dibuktikan dengan masih adanya kasus suap dari pihak eksekutif
kepada pihak aparatur dalam melaksanakan kewajibannya terhadap NKRI
}Sejatinya tiap tiap warga negara memiliki
kewajiban yang sama terhadap keutuhan NKRI. Namun peran para aparatur ketahanan
dalam negeri seperti polisi ataupun TNI memiliki peran khsus dan
tersepesialisasi dalam kewajiban ini
Maka sudah seyogyanya reformasi mental yang dicetuskan pemerintah harus
kita dukung. Salah satunya melalui pendidikan kewarganegaraa
BAB 3 PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Setiap warga negara mempunyai
kewajiban untuk menjaga serta mempertahankan persatuan dan kesatuan nasional
republik Indonesia baik itu dalam aspek politik, ekonomi, sosial dan budaya,
ideologi maupun hankam. Semuanya memiliki tanggung jawab yang sama untuk
memelihara keutuhan bangsa ini agar tidak dapat diluluh lantahkan dengan mudah
oleh bangsa lain yang ingin menguasai atau menghancurkan bangsa ini hanya demi
kepentingan pribadi bangsa mereka. Kita sebagai bangsa yang besar harus
menunjukkan bahwa kita tidak hanya mengandalkan pasukan khusus atau tentara
untuk melindungi bangsa kita, tapi kita sacara bersama-sama yang akan
melindungi dan mempertahankan tanbah air yang telah mempersatukan kita dalam
ras, suku, dan budaya.
Bentuk pertahanan nasional tidak
hanya berupa perlawanan menggunakan senjata atau kekuatan fisik. Pertahanan
nasional juga bisa dilakukan melalui pelestarian budaya kita, mencintai
produk-produk dalam negeri, mendidik generasi bangsa agar tidak mengalami kemerosotan moral. Seperti
yang telah kita ketahui bangsa luar menjajah kita bukan menggunakan senjata,
melainkan mereka menjajah kita dengan cara membodohkan generasi bangsa ini,
karena tegaknya bangsa ini tergantung bagaimana generasi penerusnya mengolah
dan memimpinnya. Semoga kita mampu menjadi generasi yang menjaga juga memajukan
bangsa ini.
3.2
Saran
Sebagai mahasiswa kita harus mampu memberikan contoh ke
generasi selanjutnya bagaimana menerapkan sikap pertahanan nasional yang benar,
bukan dengan menggunakan cara yang anarkis. Selain itu kita dituntut untuk
mampu melindungi dan mempertahankan kedaulatan bangsa ini serta saling mengingatkan
ke individu lain pentingnya mempertahankan kedaulatan nasional bangsa ini.
Disamping mempertahankan, kita sebagai pelajar secara sadar berusaha untuk
memajukan serta mengharumkan nama bangsa ini di mata dunia agar bangsa kita
tidak pandang remeh lagi oleh bangsa lain.
DAFTAR PUSTAKA
Martasuta, Umar Djani.2015.Ketahanan
Nasional [serial online].Jakarta: Universitas Pendidikan Indonesia. http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND._LUAR_BIASA/195202151983011M._UMAR_DJANI_MARTASUTA/A%20Dikwar/1%20Pendidikan%20Kewarganegaraan/Tannas/Ketahanan%20Nasional.pdf.
[diakses pada tanggal 12 Mei 2016]
Kusrahmagi,
Sigit Dwi.2013.Ketahanan Nasional [serial online]. Yogyakarta:
Universitas Negeri Yogyakarta. http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/KETAHANAN%20NASIONAL%20UPT%20MKU%20Penting%20Sekali%20A1%2004-02-06_0.pdf.
[diakses pada tanggal 12 Mei 2016]
Suherlan,
Mukhtar T.2104.Ketahanan Nasional Indonesia [serial online].Bandung :
Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati. dokumentips.com. [diakses
pada tanggal 12 Mei 2016]
Anonim.2012.Sifat
dan Asas Ketahanan Nasional [serial online]. https://hyrra.wordpress.com/2012/04/29/sifat-dan-asas-ketahanan-nasional/.
[diakses pada tanggal 12 Mei 2016]
Faisal,
Ahmad.2012.Analisis Konflik Antar Suku Di Papua [serial
online].Purwokerto : Universitas Jendral Soedirman. https://www.academia.edu/8478509/ANALISIS_KONFLIK_ANTARSUKU_DI_PAPUA.
[diakses pada tanggal 12 Mei 2016]
Contoh Kasus Ketahanan Nasional dalam Aspek
Ideologi
Peristiwa PRRI di Sumatra
Pemberontakan
beberapa tokoh politik nasional yang membentuk Pemerintah Revolusioner Republik
Indonesia (PRRI) sebenarnya tidak perlu terjadi. Peristiwa itu dipicu oleh
ketidak puasan daerah terhadap sikap pemerintah pusat. Pertentangan antara
pemerintah pusat dan beberapa daerah menyebabkan terjadinya pemberontakan PRRI.
Pokok permasalahannya otonomi dan perimbangan keuangan antara pusat dan daerah
yang tidak adil.
Para
panglima pendiri dewan dan tokoh dari pihak sipil, seperti Syarif Usman, Burhanuddin
Harahap, dan Syarifuddin Prawiranegara mengadakan pertemuan untuk membicarakan
pembentukan pemerintah baru pada tanggal 9 Februari 1958. Menindaklanjuti hasil
rapat, kemudian hasil rapat raksasa di Padang. Hasil rapat itu adalah
mengultimatum pemerintah pusat agar kabinet Djuanda menyerahkan mandat kepada
presiden dalam waktu 5 x 24 jam dan presiden diminta untuk kembali pada
kedudukan semula sebagai presiden yang konstitusional.
Ultimatum
yang disampaikan oleh Letkol Ahmad Husein sebagai pimpinan rapat, ditolak oleh
pemerintah. Bahkan Letkol Ahmad Husein dan kawan-kawan dipecat dari Angkatan
Darat. Pada tanggal 15 Februari 1958 Ahmad Husein mengumumkan berdirinya
Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Padang, dan mengangkat
Syarifuddin Prawiranegara sebagai perdana menteri. Dalam upaya menumpas gerakan
ini, pemerintah melancarkan operasi militer gabungan antara AD, AL, dan AU.
Operasi penumpasan PRRI Sumatera dilancarkan dengan Sandi Operasi 17 Agustus di
bawah pimpinan Kolonel Ahmad Yani.
Komentar
Posting Komentar